GROW → SCALE → INVEST → EXIT M&A Tidak Berakhir di Closing ADIABEL LEGAL INSI...
GROW → SCALE → INVEST → EXIT
Sebuah bisnis biasanya dimulai dengan satu pertanyaan sederhana:
Pada tahap awal, pemilik bisnis biasanya memikirkan produk, pelanggan, omzet, cash flow, dan bagaimana perusahaan dapat bertahan.
Kemudian bisnis mulai berkembang.
Tim bertambah. Pasar meluas. Aset bertambah. Kebutuhan modal meningkat. Struktur organisasi menjadi lebih kompleks.
Pada titik tertentu, pertanyaan berubah.
Bukan lagi:
melainkan:
Dan ketika pertumbuhan membutuhkan modal yang lebih besar, muncul pertanyaan berikutnya:
Dari sinilah perjalanan menuju INVEST dimulai.
Namun masuknya investor bukan sekadar menerima uang ke rekening perusahaan.
Ada valuasi. Ada due diligence. Ada struktur investasi. Ada negosiasi. Ada term sheet. Ada perubahan kepemilikan. Ada governance.
Dan pada tahap tertentu, pemegang saham bahkan mungkin berpikir tentang EXIT.
Menjual saham. Mengundang investor strategis. Melakukan merger. Mengakuisisi perusahaan lain. Membentuk SPV. Atau membangun struktur transaksi yang memungkinkan nilai bisnis direalisasikan.
Karena itu, M&A seharusnya tidak dilihat sebagai satu transaksi yang dimulai ketika dokumen ditandatangani dan selesai ketika closing dilakukan.
Dan semakin besar bisnisnya, semakin penting perusahaan memahami perjalanan tersebut sejak awal.
01 — KAPAN BISNIS SIAP MENERIMA INVESTOR?
Tidak semua bisnis yang membutuhkan uang berarti sudah siap menerima investor.
Ini adalah perbedaan yang sangat penting.
Perusahaan mungkin membutuhkan modal karena cash flow sedang ketat. Tetapi investor tidak selalu datang hanya untuk mengisi kekurangan kas.
Investor biasanya melihat sesuatu yang lebih besar:
Karena itu, kesiapan menerima investor tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan modal.
Investor akan melihat apakah bisnis memiliki:
- model bisnis yang dapat dipahami;
- revenue yang dapat ditelusuri;
- struktur kepemilikan yang jelas;
- laporan keuangan yang dapat dipercaya;
- kontrak material yang terdokumentasi;
- perizinan yang sesuai;
- aset yang jelas statusnya;
- intellectual property yang terlindungi;
- kewajiban dan utang yang dapat dipetakan;
- tata kelola yang memadai; serta
- manajemen yang mampu menjalankan bisnis setelah investasi masuk.
Dengan kata lain:
Investor tidak hanya melihat apakah bisnis membutuhkan uang.
Investor melihat apakah bisnis tersebut layak menerima uang.
02 — VALUASI BUKAN SEKADAR ANGKA
Kemudian muncul pertanyaan yang hampir selalu sensitif:
Angka valuasi sering menjadi pusat negosiasi.
Tetapi valuasi sebenarnya bukan sekadar angka yang ditulis dalam term sheet.
Valuasi merupakan interpretasi terhadap nilai ekonomi bisnis.
Dua perusahaan dengan omzet yang sama belum tentu mempunyai nilai yang sama.
Perusahaan pertama mungkin mempunyai pelanggan yang tersebar, kontrak jangka panjang, margin sehat, sistem yang baik, dan ketergantungan rendah terhadap pemilik.
Perusahaan kedua mungkin mempunyai omzet besar tetapi seluruh hubungan pelanggan bergantung pada satu orang, dokumentasi lemah, utang tinggi, dan sistem operasional belum tertata.
Dan risiko memengaruhi nilai.
Karena itu, valuasi harus dilihat bersama dengan:
Valuasi yang tinggi tanpa fondasi bisnis yang kuat dapat menjadi masalah.
Sebaliknya, bisnis dengan fondasi yang sehat dapat mempunyai daya tawar yang lebih baik ketika memasuki proses investasi.
03 — DUE DILIGENCE: INVESTOR MEMBELI BISNIS ATAU MEMBELI RISIKO?
Di sinilah proses mulai menjadi lebih serius.
Investor tidak cukup hanya melihat presentation deck.
Dan jawabannya tidak selalu sederhana.
Investor dapat membeli saham. Tetapi bersama saham tersebut, investor juga memperoleh eksposur terhadap kondisi Perseroan.
Karena itu, due diligence pada dasarnya adalah proses untuk memahami:
Legal due diligence dapat melihat antara lain:
- corporate documents;
- shareholder structure;
- licences;
- material contracts;
- employment;
- litigation;
- assets;
- intellectual property;
- financing;
- regulatory compliance;
- related-party transactions; serta
- material liabilities.
Financial due diligence akan melihat kondisi keuangan.
Commercial due diligence akan melihat model bisnis dan pasar.
Tax due diligence akan melihat risiko perpajakan.
04 — TERM SHEET: SEBELUM UANG MASUK
Sebelum transaksi masuk ke tahap dokumentasi final, para pihak biasanya mulai membicarakan struktur komersial investasi.
Di sinilah term sheet menjadi penting.
Term sheet pada dasarnya membantu para pihak menyepakati kerangka utama transaksi sebelum seluruh dokumen definitif disusun.
Misalnya:
- valuasi;
- jumlah investasi;
- persentase saham;
- struktur investasi;
- penggunaan dana;
- governance;
- reserved matters;
- exit mechanism;
- conditions precedent;
- exclusivity;
- confidentiality; dan
- ketentuan material lainnya.
Namun term sheet tidak boleh diperlakukan sebagai formalitas.
Karena keputusan yang terlihat kecil pada tahap awal dapat mempunyai konsekuensi besar setelah transaksi selesai.
Siapa yang mengendalikan keputusan tertentu?
Apakah investor memperoleh hak veto?
Bagaimana jika pemegang saham ingin menjual sahamnya?
Apa yang terjadi jika target tidak mencapai kinerja tertentu?
Bagaimana jika terjadi deadlock?
Inilah alasan mengapa negosiasi investasi bukan sekadar negosiasi harga.
Yang dinegosiasikan sebenarnya adalah future governance.
05 — SHARE SUBSCRIPTION VS SHARE TRANSFER
Dua struktur yang sering terlihat serupa tetapi secara ekonomi dan hukumnya berbeda adalah:
Share Subscription
Investor pada prinsipnya masuk melalui penerbitan saham baru sehingga dana investasi masuk ke Perseroan sesuai struktur transaksi.
Share Transfer
Investor membeli saham yang telah dimiliki oleh pemegang saham existing.
Perbedaannya sangat penting.
Keduanya dapat menghasilkan perubahan komposisi pemegang saham. Tetapi dampak ekonominya berbeda.
06 — AKUISISI: MEMBELI SAHAM ATAU MEMBELI MASALAH?
Akuisisi sering terdengar sederhana:
Tetapi secara hukum dan bisnis, kalimat tersebut dapat berarti banyak hal.
Apakah yang dibeli adalah:
- saham?
- aset?
- bisnis?
- portofolio pelanggan?
- teknologi?
- merek?
- atau keseluruhan perusahaan sebagai entitas?
Jika struktur yang dipilih adalah pengambilalihan saham, investor memperoleh kepemilikan atas Perseroan target melalui saham yang diambil alih.
Tetapi Perseroan target tetap merupakan entitas yang sama.
Artinya, sejarah Perseroan tersebut tidak otomatis hilang hanya karena pemegang sahamnya berubah.
Kontrak tetap perlu diperiksa.
Kewajiban tetap perlu dipetakan.
Litigasi tetap harus dilihat.
Perizinan tetap harus diperiksa.
Pajak tetap harus dianalisis.
Aset dan utang tetap menjadi bagian dari due diligence.
07 — MERGER: KETIKA DUA PERUSAHAAN MENJADI SATU
Merger mempunyai karakter yang berbeda dari sekadar pembelian saham.
Dalam merger, terjadi proses penggabungan Perseroan dengan konsekuensi hukum terhadap Perseroan yang bergabung dan Perseroan penerima penggabungan.
Ada aspek hukum, aset, kewajiban, karyawan, kontrak, kreditur, pemegang saham, serta tata kelola yang harus diperhatikan.
UU Perseroan Terbatas secara khusus menempatkan penggabungan, peleburan, pengambilalihan, dan pemisahan dalam rezim tersendiri.
UU tersebut juga menekankan perlunya memperhatikan kepentingan Perseroan, pemegang saham minoritas, karyawan, kreditur, mitra usaha, dan masyarakat.
Karena itu, merger membutuhkan lebih dari sekadar kesepakatan dua pemegang saham.
Ia membutuhkan corporate process.
08 — SPV: MENGAPA INVESTOR TIDAK SELALU MASUK LANGSUNG?
Dalam transaksi tertentu, investor tidak selalu masuk langsung ke perusahaan operasional.
Investor dapat menggunakan Special Purpose Vehicle (SPV).
Mengapa?
Karena struktur investasi kadang membutuhkan pemisahan antara:
SPV dapat digunakan untuk tujuan tertentu, misalnya struktur investasi, pemisahan risiko, pengelolaan beberapa investor, pembiayaan proyek, atau pengelolaan aset/transaksi tertentu.
Namun SPV bukan sekadar membuat satu perusahaan tambahan.
- corporate governance;
- beneficial ownership;
- pembiayaan;
- perjanjian antarentitas;
- kewajiban pelaporan;
- perpajakan; dan
- regulatory consideration.
Struktur yang lebih kompleks tidak selalu berarti struktur yang lebih baik.
Struktur yang baik adalah struktur yang mampu menjelaskan:
siapa memiliki apa → siapa mengendalikan apa → siapa menanggung risiko apa → siapa menerima manfaat apa.
09 — EXIT STRATEGY HARUS DIPIKIRKAN SEJAK AWAL
Ironisnya, banyak bisnis baru memikirkan exit ketika pemegang saham sudah ingin keluar.
Padahal exit yang sehat seharusnya dipertimbangkan sejak struktur investasi dibangun.
Karena investor pada dasarnya tidak hanya bertanya:
Tetapi juga:
Exit dapat berbentuk:
- share transfer;
- strategic sale;
- buyback dalam struktur yang diperbolehkan;
- merger;
- secondary transaction;
- penjualan kepada investor lain; atau
- bentuk exit lain sesuai struktur dan ketentuan yang berlaku.
Karena itu, sejak awal perlu dipikirkan:
Siapa yang dapat menjual?
Kapan dapat menjual?
Kepada siapa?
Dengan mekanisme apa?
Bagaimana jika pemegang saham berbeda pendapat?
Apa yang terjadi jika ada investor baru?
Inilah alasan mengapa shareholder agreement dan dokumen investasi tidak seharusnya hanya memikirkan entry.
10 — M&A TIDAK BERAKHIR DI CLOSING
Inilah bagian yang sering dilupakan.
Tanggal closing sering dianggap sebagai garis akhir.
Setelah transaksi selesai, masih ada pekerjaan:
POST-CLOSING INTEGRATION
- Perubahan pemegang saham harus tercermin dengan benar.
- Data Perseroan harus diperbarui.
- Struktur Direksi dan Komisaris mungkin berubah.
- Governance harus disesuaikan.
- Kontrak mungkin harus ditindaklanjuti.
- Sistem keuangan perlu diintegrasikan.
- Karyawan perlu memperoleh kejelasan.
- Operasional harus berjalan.
Dan yang paling penting:
Karena investor tidak membeli dokumen.
Investor membeli future value.
Jika setelah closing perusahaan justru kehilangan pelanggan, manajemen tidak terintegrasi, sistem tidak berjalan, konflik antar pemegang saham muncul, atau synergy tidak pernah terjadi, maka transaksi yang secara legal telah selesai belum tentu menjadi transaksi yang secara bisnis berhasil.
FROM DEAL TO VALUE
Karena itu, M&A seharusnya dipahami dalam tiga tahap besar:
BEFORE DEAL
Strategy → Valuation → Due Diligence → Structure → Negotiation
DEAL
Documentation → Approval → Conditions Precedent → Signing → Closing
AFTER DEAL
Integration → Governance → Compliance → Synergy → Monitoring → Value Creation
Dan justru fase setelah closing sering menentukan apakah seluruh biaya, waktu, tenaga, dan risiko yang dikeluarkan selama transaksi benar-benar menghasilkan nilai.
CORPORATE LIFECYCLE
Jika kita tarik lebih jauh, perjalanan perusahaan sebenarnya dapat dibaca sebagai sebuah siklus:
Bisnis membangun produk, pasar, pelanggan, sistem, dan cash flow.
Bisnis memperbesar kapasitas, organisasi, teknologi, jaringan, dan market reach.
Bisnis membutuhkan modal, investor, strategic partner, atau struktur pembiayaan baru.
Perusahaan dapat memilih acquisition, merger, SPV, strategic investment, atau corporate restructuring.
Struktur baru harus dioperasikan, dikendalikan, dan dimonitor.
Pemegang saham atau investor merealisasikan nilai melalui mekanisme exit yang sesuai.
Modal dan pengalaman dapat kembali digunakan untuk pertumbuhan berikutnya.
M&A READINESS CHECK
Sebelum sebuah perusahaan mengatakan:
setidaknya perlu melihat beberapa fondasi:
CORPORATE
Apakah struktur Perseroan dan kepemilikan sudah jelas?
FINANCIAL
Apakah laporan keuangan dapat dipercaya dan ditelusuri?
LEGAL
Apakah kontrak, izin, aset, IP, tenaga kerja, dan sengketa telah dipetakan?
GOVERNANCE
Apakah kewenangan Direksi, Komisaris, dan pemegang saham jelas?
TAX
Apakah kewajiban dan risiko pajak telah diperiksa?
OPERATION
Apakah bisnis dapat berjalan tanpa terlalu bergantung pada satu orang?
DATA
Apakah informasi perusahaan tersedia dalam bentuk yang dapat diverifikasi?
STRATEGY
Apakah perusahaan tahu mengapa membutuhkan investor atau melakukan M&A?
Jika jawabannya belum jelas, mungkin perusahaan belum berada pada tahap INVEST.
Mungkin perusahaan masih perlu memperkuat GROW dan SCALE terlebih dahulu.
ADIABEL LEGAL VIEW
M&A sering dibicarakan seolah-olah merupakan permainan angka:
berapa valuasinya?
berapa persen sahamnya?
berapa harga akuisisinya?
Tetapi di balik angka tersebut terdapat sesuatu yang jauh lebih penting:
Struktur kepemilikan. Struktur kewenangan. Struktur transaksi. Struktur risiko. Struktur governance. Dan akhirnya, struktur penciptaan nilai.
Perusahaan yang siap menerima investor bukan hanya perusahaan yang memiliki pertumbuhan. Ia adalah perusahaan yang dapat menjelaskan dirinya sendiri.
Investor dapat memahami siapa pemiliknya. Dokumen dapat menunjukkan apa yang dimilikinya. Laporan dapat menjelaskan bagaimana bisnis menghasilkan uang. Due diligence dapat mengidentifikasi risikonya. Struktur transaksi dapat menjelaskan bagaimana investor masuk. Dokumen dapat mengatur bagaimana hubungan para pihak berjalan. Dan sejak awal, para pihak telah memikirkan bagaimana suatu hari investasi tersebut dapat keluar.
Karena itu, perjalanan korporasi tidak berhenti pada:
GROW → SCALE → INVEST
tetapi terus bergerak menuju:
STRUCTURE → TRANSACT → INTEGRATE → CREATE VALUE → EXIT

COMMENTS